Thursday, 14 February 2013

ANALISIS FILM “TANAH SURGA, katanya.. “


SINOPSIS

            Setelah meninggalnya istri tercinta, Hasyim, mantan sukarelawan konfrontasi Indonesia Malaysia tahun 1965, memutuskan tidak menikah. Ia tinggal dengan anak laki-laki satu-satunya Haris yang juga menduda, dan dua cucu nya Salman dan Salina. Hidup di perbatasan Indonesia dan Malaysia merupakan persoalan tersendiri bagi mereka, karena keterbelakangan pembangunan dan ekonomi.

            Astuti, guru sekolah dasar di kota, datang tanpa direncanakan. Ia mengajar di sekolah yang hampir rubuh karena setahun tidak berfungsi. Tak lama berselang datang dr. Anwar, dokter muda yang datang karena tidak mampu bersaing dengan dokter profesional di kota.

            Haris mencoba membujuk ayahnya untuk pindah ke Malaysia dengan alasan di sana lebih menjanjikan secara ekonomi dibandingkan tetap tinggal di Indonesia. Hasyim bersikeras tidak mau pindah. Baginya kesetiaan pada bangsa adalah harga mati.

            Persoalan semakin meruncing ketika Hasyim tahu bahwa Haris ternyata sudah menikah dengan perempuan Malaysia dan bermaksud mengajak Salman dan Salina. Salman yang dekat dengan sang kakek memilih tetap tinggal di Indonesia.

            Hasyim sakit. Dr Anwar berusaha memberikan perawatan dan obat yang lebih rutin. Namun, keterbatasan sarana dan obat, membuat kondisi Hasyim memburuk. Dr Anwar memutuskan untuk membawa Hasyim ke rumah sakit di kota. Dengan uang hasil kerja Salman, Hasyim dibawa pakai perahu. Mereka berangkat ditemani oleh Astuti dan Dr Anwar. Di tengah perjalanan nyawa Hasyim tidak tertolong. Ia meninggal bersamaan dengan pekik dan sorak sorai Haris karena kemenangan Malaysia atas Indonesia.


PENDAPAT

            Film ini menggambarkan kenyataan konflik yang dialami Indonesia dalam masalah perbatasan wilayah negara. Pemerintah kurang memperhatikan desa-desa daerah yang ada di wilayah perbatasan, sehingga penduduk menjadi acuh terhadap negaranya sendiri dan berpindah ke negeri seberang, Malaysia demi kesejahteraan hidup masing-masing.

            Namun tidak bagi Hasyim, kakek Salman dan Salina. Baginya kesetiaan kepada bangsa adalah harga mati. Meski ia mengetahui dirinya sakit dan harus segera berobat ke rumah sakit di kota ia mengurungkan niat. Bahkan saat Haris, anaknya mengajak pindah ke Malaysia agar hidupnya lebih baik, ia pun menolak. Baginya lebih baik tetap di Indonesia maski harus mati, daripada pindah ke Malaysia dan mengkhianati negerinya.

            Konflik-konflik yang digambarkan dari film ini menurut saya bisa menjadi kritik yang kuat yang dapat mengetuk hati para pejabat negara bahwa daerah-daerah perbatasan di indonesia dengan negara lain sangat membutuhkan bantuan, pembangunan, dll. Agar mereka tidak melakukan segala bentuk kejahatan demi keuntungan diri sendiri. Agar mereka tak lagi tega memakan uang negara yang seharusnya diperuntukkan rakyat-rakyat yang membutuhkan, berbagai wilayah yang masih membutuhkan pembangunan . film ini juga dapat menambah rasa nasionalisme yang digambarkan melalui tokoh Salman.

            Film ini cocok ditonton untuk siapa saja, karena tidak mengandung unsur porno, sara atau apapun yang negatif yang dapat mempengaruhi seseorang berbuat kejahatan.

No comments:

Post a Comment