Wednesday, 26 September 2012

Harapan di atas kegelisahan

Mendung seperti bidadari menangis

Air matanya jatuh berupa batu-batu hitam

Yang menutupi kehijauan rerumputan

Kesunyian tanpa bintang , kesedihan tanpa bulan

Malamnya berhias dengan ratapan awan-awan tebal


Kedua matanya bagaikan matahari kembar

Tapi sinarnya tak sampai dihatiku yang kedinginan

Ia menaburkan bunga dari angkasa

Runtuh seperti emas-emas yang jatuh

Tapi emas-emas itu berubah menjadi karang-karang tajam


Cinta ini bagaikan mengharap redupnya bulan

Hatinya yang mengeras seperti sebilah keris pusaka

Yang haus akan darah para dewa

Di pangkuannya , pertiwi dipeluknya dalam kedamaian

Hatinya menyulam cinta dengan benang-benang yang belum didapatkanya

Tapi ketahuilah , darah pun akan kuberikan

Agar sulamannya cepat menjadi taman yang penuh bunga


Biarlah aku di telan malam yang penuh teka teki ini

Hari-hari serasa berlalu dengan penuh beban

Bahkan malam-malam berbulan pun hanya memberi kegelapan

Bagi hatiku yang ditimpa kerinduan


Aku menderita

Seperti bunga angsana yang sarinya disengat lebah

Tapi hatiku senantiasa bermain-main

Dalam manisya harapan

No comments:

Post a Comment