Mendung seperti bidadari menangis
Air matanya jatuh berupa batu-batu hitam
Yang menutupi kehijauan rerumputan
Kesunyian tanpa bintang , kesedihan tanpa bulan
Malamnya berhias dengan ratapan awan-awan tebal
Kedua matanya bagaikan matahari kembar
Tapi sinarnya tak sampai dihatiku yang kedinginan
Ia menaburkan bunga dari angkasa
Runtuh seperti emas-emas yang jatuh
Tapi emas-emas itu berubah menjadi karang-karang tajam
Cinta ini bagaikan mengharap redupnya bulan
Hatinya yang mengeras seperti sebilah keris pusaka
Yang haus akan darah para dewa
Di pangkuannya , pertiwi dipeluknya dalam kedamaian
Hatinya menyulam cinta dengan benang-benang yang belum didapatkanya
Tapi ketahuilah , darah pun akan kuberikan
Agar sulamannya cepat menjadi taman yang penuh bunga
Biarlah aku di telan malam yang penuh teka teki ini
Hari-hari serasa berlalu dengan penuh beban
Bahkan malam-malam berbulan pun hanya memberi kegelapan
Bagi hatiku yang ditimpa kerinduan
Aku menderita
Seperti bunga angsana yang sarinya disengat lebah
Tapi hatiku senantiasa bermain-main
Dalam manisya harapan
No comments:
Post a Comment